<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Spesialsopayam's Weblog</title>
	<atom:link href="http://spesialsopayam.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://spesialsopayam.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Fri, 18 Jul 2008 17:24:55 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='spesialsopayam.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Spesialsopayam's Weblog</title>
		<link>http://spesialsopayam.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://spesialsopayam.wordpress.com/osd.xml" title="Spesialsopayam&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://spesialsopayam.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Audisi Akhirat..</title>
		<link>http://spesialsopayam.wordpress.com/2008/07/18/audisi-akhirat/</link>
		<comments>http://spesialsopayam.wordpress.com/2008/07/18/audisi-akhirat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jul 2008 17:24:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>spesialsopayam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spesialsopayam.wordpress.com/?p=42</guid>
		<description><![CDATA[Kemarin ini, iseng-iseng aku mengikuti audisi di sebuah stasiun televise swasta di Jakarta. Beberapa teman sempat kaget, mungkin pikir mereka seharusnya aku ngaca ya sebelum cuap-cuap casting, mana ada artis yang pendek, item, n tampang ‘nge-pas’ kaya aku. Yup, menurut beberapa referensi yang ku baca, kalo kita pingin nembus ke televisi tidak bisa bermodal muka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=spesialsopayam.wordpress.com&amp;blog=3992859&amp;post=42&amp;subd=spesialsopayam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a href="http://vivirlatino.com/i/2006/11/Clapboard-Casting_Call1.gif"><img class="alignleft" src="http://vivirlatino.com/i/2006/11/Clapboard-Casting_Call1.gif" alt="" width="192" height="192" /></a><span lang="IN">Kemarin ini, iseng-iseng aku mengikuti audisi di sebuah stasiun televise swasta di Jakarta. Beberapa teman sempat kaget, mungkin pikir mereka seharusnya aku ngaca ya sebelum cuap-cuap casting, mana ada artis yang pendek, item, n tampang ‘nge-pas’ kaya aku. Yup, menurut beberapa referensi yang ku baca, kalo kita pingin nembus ke televisi tidak bisa bermodal muka yang nge-pas. “kalo lo pingin tembus tv, lo ga boleh nanggung tie !! cantik.. ya cantik bgt, ancur.. ya ancur banget..!!” begitu kata temanku di kampus dulu. Sedang wajahku..?? ya.. seperti yang udah dibahas tadi, cantik engga.. jelek pun ga tega bilangnya, hehehe.</span><span id="more-42"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Sebenernya, niatku ikut casting tersebut memang bukan ingin jadi artis, seumur-umur pun aku belum pernah menulis di pohon impianku ingin menjadi artis terkenal. Namun kemarin ini aku tergoda oleh salah satu iklan di sebuah web, yang mencari presenter untuk acara tiga perjalanan wanita. Syaratnya : 1.wanita berjilbab, 2.suka jalan-jalan. “AKU BANGET&#8230;!!!”. Akhirnya dengan meminta restu ibu, aku pun berangkat kesana. (pengalaman sebelumnya, kalo ga minta restu ibu pasti ada aja yang celaka. Akhirnya untuk yang satu ini, meski rada keki, aku meminta restu ibu).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Hari pertama audisi, di lobby sudah sangat terlihat para wanita berjilbab mengantri antrian yang sangat panjang. Wuiih.. muales banget. Akhirnya pura-pura sok ga pingin ikut audisi aku pun melewati mereka semua dan menuju ke arah toilet. Sampai di toilet, ternyata masih banyak wanita-wanita lain disana, yang sedang bermake-up, membenarkan posisi jilbabnya yang kurang modist, bahkan ada yang sibuk dengan lipstik dan pemerah pipi. Di depan toilet tampak seorang wanita yang sedang menghafalkan script sementara pacarnya dengan setia mengamati kekasihnya itu. “kamu kurang vokal..kamu kurang senyum.. “ kata sang pacar mengomentari.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Aku menarik nafas panjang, seperti inikah dunia artis ? padahal ini juga masih artis-artisan. Tapi entah kenapa aku merasa ga sreg. Bagaimana kalo udah pada jadi artis beneran, pikirku. Akhirnya, dalam waktu lima menit, aku memutuskan untuk pulang saja. namun belum sempat aku keluar lobby, sebuah suara memanggil namaku : “asty&#8230;&#8230;.!!!!!!!” aku mencari asal suara itu. Ternyata dari seorang muslimah yang sedang berada persis di tengah-tengah para peserta audisi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">“Mba Annisa ???” kataku kaget. Aku agak sedikit malu terpergok disana, pasti mba Aan akan ngira aku centil atau apa sampai rela-rela datang ke tempat audisi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">“mbak ikutan audisi ??” tanyaku heran. Dia Cuma tersenyum, dan kemudian mengajakku duduk dan<span> </span>mengambilkan nomor urut untukku. “kamu ikut aja ya.. temani aku” katanya santai. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Mbak Aan adalah senior dua tahun di atas ku. Dulu waktu di kampus kita memang punya hobi yang sama, pernah jadi reporter kampus, suka bernasyid ria, dan kalo mukhoyam kita selalu yang paling depan. Namun aku benar-benar ga menyangka ternyata mba Aan berniat ikutan audisi sepert ini. Terlebih kali ini penampilannya sedikit lebih feminim dan modist, namun alhamduliullah ia terlihat lebih istiqamah dalam busananya. Jilbabnya masih panjang, masih dengan jaurab yang biasanya. Hanya saja kemarin ia mengenakan sepatu hak tinggi, padahal ia sudah sejengkal lebih tinggu dari ku. Akhirnya kami pun hanyut dengan pembahasan ‘berbau’ reuni kampus.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Tak terasa, tiga jam sudah kami berbincang. Dan tiba-tiba suara mikrofon memanggil lima nomor peserta yang diantaranya adalah nomor aku dan mbak Aan. “giliran kita tie..!” kata mbak Aan. Script di tanganku belum ku hafal sama sekali. Tampang ku pun sepertinya udah ga karuan. Akhirnya kami sepakat ke kamar mandi dulu untuk menghilangkan nervous yang ada.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Menuju ke ruang audis bersama tiga peserta lainnya ternyata mempunyai kisah tersendiri bagiku. Bersama mereka yang cemas berhasil membuatku ikut cemas dan dag-dig-dug ga karuan. “hey.. kenapa deg-degan tie..?? kamu kan ga niat ikutan audisi. Just let it flow aja kali..” kata ku dalam hati. Namun ternyata tetap saja jantung ini ga bisa diajak kompromi. Mendengar kekhawatiran teman-teman yang lain membuat aku juga semakin khawatir ga karuan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Di depan ruang audisi, kami disuruh menunggu sebentar karena kameramennya sedang makan. Didepan ruangan itulah kecemasan kami memuncak. Teman-teman yang lain tampak gugup, menghafalkan script yang ada, sementara aku terfokus mengamati mereka satu persatu, dan bertanya pada diriku sendiri. “hm.. sainganku cantik-cantik, pintar-pintar pula, sebenarnya ngapain aku disini? Capek-capekin jantung aja yang ikutan cemas. Kemungkinan kamu untuk lolos tuh kecil tie..”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">“tapi apa salahnya nyoba?’</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">“Nyoba untuk apa? Bukannya kamu juga setengah niat”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">“ya cari pengalaaman..”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">“pengalaman? Kamu buang-buang waktu tie disini..sia-sia&#8230;”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dua sisi hatiku berdebat ga karuan. Sementara aku sendiri hanyut mendengar pedebatan tersebut. Sambil menyembunyikan detak jantung yang juga berdegup kencang. Deg-degan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Akhirnya, tiba juga giliranku. Sempat minta satu kali kesempatan mengulang karena aku lupa isi script yang harusnya dihafalkan. Dan akhirnya tuntas juga, meski tanpa keyakinan lolos.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Selesai casting, aku tidak terlalu berekspresi seperti peserta audisi yang lainnya, yang berteriak-teriak dan berloncat-loncat dengan aneka gaya. Aku tetap berusaha cool, sok yakin berhasil, padahal dengkul ini berdusta karena masih gemeteran setengah mati. Selangkah keluar dari ruang audisi, sms di Hp ku berbunyi. Dari Riska, sahabatku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“<em>tie.. jadi ke Bandung? kebetulan gw juga lagi di Bandung niy”</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dan tanpa basa-basi ku balas sms itu segera. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">“<em>ka&#8230; lw tau ga, dengkul gw gemeteran abis.. gw semenit yang lalu baru aja keluar dari ruang audisi. Fiufh&#8230; sumpah.. gw takut banget..”</em> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Kemudian aku bergegas menuju musholah untuk ‘menarik nafas panjang’, menarik otot-otot yang tegang agar kembali rileks. Dan tak lama kemudian sms dari Riska pun datang..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">“ <em>dasar..!! lo jadi toh ikutan audisi ?? gemeteran?? Ya elah ti.. baru juga audisi di dunia, apalagi audisi di akhirat&#8230;”</em> jawab riska santai. Sempat ada juga smiley di ujung smsnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Aku tersenyum kecut membacanya. “lo sih ga ngerasain !!” kataku dalam hati. Namun ketika ku baca ulang sms nya, lagi dan berkali-kali, aku terpaku pada satu kalimat di akhirnya : “apalagi audisi di akhirat&#8230;”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Audisi di akhirat</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Perjalanan pulang hari itu menjadi sebuah perenungan panjang bagiku. Dari awal aku berangkat aku memang bertekad tidak ingin pulang dengan sia-sia. Dan alhamdulillah benar, meski aku tidak membawa kabar lulus casting, namun aku mendapatkan pelajaran yang mahal tentang audisi yang sebenarnya, yaitu audisi di akhirat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Tiba-tiba aku sangat merasa malu, mengingat betapa gemetarnya aku tadi pada detik-detik audisi. Padahal, di akhirat nanti pun kita semua akan dikumpulkan untuk audisi di hadapan Allah langsung. Kita di audisi, untuk ditimbang siapakah yang paling berkualitas amalnya. Dan disaat itu pula kita akan menerima buku hisab yang entah akan kita terima dengan tangan kanan atau dengan tangan kiri, semuanya tergantung dengan amal kita. buku hisab itu ibarat amplop yang berisi jawaban, yang menentukan kita lolos atau tereliminasi untuk menjadi penghuni surganya Allah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Audisi di akhirat hanya terjadi satu sekali untuk selamanya. Dan tidak akan terulang lagi seperti layaknya audisi Indonesian Idol yang selalu ada setiap tahun. Untuk itu kita tidak bisa main-main untuk mempersiapkannya. Kalo tadi aku masih bisa ngobrol-ngobrol sama mbak Aan untuk menghadapi audisi di TV, sehingga ketika audisi aku lupa dengan script yang ada. namun bagaimana jika itu terjadi ketika aku audisi di hadapan Allah ? ketika Allah bertanya amalan unggulan yang aku miliki ? ketika Allah bertanya kemana harta dan ilmu yang kumiliki? Dan ketika semua dosa terpampang dihadapanku? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Siapapun dari kita, pasti akan melewati audisi akhirat tersebut. Semoga kita termasuk hamba yang menerima amplop hisab itu dengan tangan kanan. Amin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">*yuk persiapkan diri, agar tidak tereliminasi nanti* =) </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/spesialsopayam.wordpress.com/42/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/spesialsopayam.wordpress.com/42/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/spesialsopayam.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/spesialsopayam.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/spesialsopayam.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/spesialsopayam.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/spesialsopayam.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/spesialsopayam.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/spesialsopayam.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/spesialsopayam.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/spesialsopayam.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/spesialsopayam.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/spesialsopayam.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/spesialsopayam.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/spesialsopayam.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/spesialsopayam.wordpress.com/42/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=spesialsopayam.wordpress.com&amp;blog=3992859&amp;post=42&amp;subd=spesialsopayam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spesialsopayam.wordpress.com/2008/07/18/audisi-akhirat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9757f810923305dcd07ac58c6b3b945b?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">spesialsopayam</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://vivirlatino.com/i/2006/11/Clapboard-Casting_Call1.gif" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Cinta &amp; Secangkir Teh</title>
		<link>http://spesialsopayam.wordpress.com/2008/06/26/cinta-secangkir-teh/</link>
		<comments>http://spesialsopayam.wordpress.com/2008/06/26/cinta-secangkir-teh/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jun 2008 15:28:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>spesialsopayam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spesialsopayam.wordpress.com/?p=41</guid>
		<description><![CDATA[Sampai sore tadi, adalah kesekian ratus atau mungkin kesekian ribu kalinya aku mengaduk teh untuk ayah dan ibu. Ku mulai itu sejak kelas 3 SD. Diajarkan langsung oleh seniorku yang sebelumnya mengemban tugas tersebut, yup.. dia Kakakku. Karena aku sudah kelas tiga, dan kakakku sudah kelas enam, kata ibu sudah waktunya ada regenerasi tugas rumah. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=spesialsopayam.wordpress.com&amp;blog=3992859&amp;post=41&amp;subd=spesialsopayam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><img class="alignleft" style="float:left;" src="http://se.inf.ethz.ch/people/leitner/erl_g/image/tea_cup_small.jpg" alt="" width="307" height="230" /><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="IN">Sampai sore tadi, adalah kesekian ratus atau mungkin kesekian ribu kalinya aku mengaduk teh untuk ayah dan ibu. Ku mulai itu sejak kelas 3 SD. Diajarkan langsung oleh seniorku yang sebelumnya mengemban tugas tersebut, yup.. dia Kakakku. Karena aku sudah kelas tiga, dan kakakku sudah kelas enam, kata ibu sudah waktunya ada regenerasi tugas rumah. Aku pun di training oleh kakakku mengerjakan tugas-tugas dia sebelumnya, diantaranya ada nimba air, nyiramin pohonan, membereskan kamar kami, dan bikin teh untuk ibu dan ayah setiap pagi dan sore. Sedang kakakku dtraining oleh ibu langsung mengerjakan beberapa tugas ibu sebelumnya, seperti nyuci piring dan nyuci baju, ngerapihin lemari, ngupasin bawang dan berbagai kegiatan dapur lainnya.</span><span id="more-41"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="IN"> Namun sayang, regenerasi tugas itu hanya ‘mentok’ di aku. Karena ternyata Allah mengkaruniakan aku adik laki-laki yang ganteng dan gendut. Jaraknya enam tahun di bawah aku. Jadi lumayan lama aku menunggu dia besar untuk mentraining dia membuat teh untuk ayah dan ibu. Padahal saat itu, ketika aku kelas 5 SD, aku juga sudah mengemban tugas-tugas kakakku yang saat itu sudah nyantri di pesantren. Walhasil, jadilah aku wanita satu-satunya di rumah yang membantu tugas rumah tangga ibu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="IN"> Ketika adikku kelas 3, aku mentrainingnya, bermaksud mengalihkan tugas membuatkan teh untuk ayah dan ibu kepadanya. Namun ternyata Ayah sudah memberi jobdesk laki-laki untuknya, seperti nimba air, nyuci motor, nguras kamar mandi, dsb. Akhirnya, tugas membuat teh tadi tetap aku yang bertanggung jawab.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="IN"> Empat tahun setelah kelahiran adikku itu, alhamdulillah aku punya adik lagi. Kali ini perempuan. Pertama tau perempuan aku senang bukan kepayang, dalam benakku : “nanti kalo aku di pesantren maka dia yang akan mengerjakan pekerjaan rumah tangga, YES !!!”. namun cukup lama juga aku menunggunya besar, dengan kelahiran adikku itu tugasku pun bertambah, kini bukan hanya meragkap tugas aku dan kakakku yang telah diceritakan tadi, melainkan juga tugas sebagai baby sister. Yup, mulai dari nyuciin popok, ngajak main, sampai buatin susu dan nyuapin si kecil adalah tugasku. Maklum, ibu dan ayahku sibuk, jadi aku harus full nemenin si bontot. Bahkan terkadang, kalo aku main saja aku sambil menggendong si bontot yang ingusan itu,, hehehe&#8230; </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="IN"> Dari kelas 3SD &#8211; 3 SMP,, setiap pagi dan sore aku masih rutin menghidangkan teh untuk ayah dan ibu. Kadang kalo sore-sore aku lagi main tap lari jongkok, lalu aku langsung ngibrit masuk rumah karena melihat motor ayah dan ibu melaju di ujung gang. “awas&#8230; aku mau buat teh ayah dulu,&#8230;” kataku teriak ke temen-temen. Begitu pula waktu SMP, saat aku sedang jadi ABG yang rada-rada centil, pekerjaan itu pun masih terus aku lakoni.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="IN"> Sebenarnya, tugas membuat teh itu bukanlah hal yang sulit. Namun entah kenapa aku selalu males membuatnya. Mengingat zaman bahela membuat teh itu rumit, masih pake teh tubruk pula, menunggu teh merah saja harus beberapa jam. Dan parahnya, aku sering lupa menyeduh teh, jadi ketika ayah dan ibu dateng,,, tehnya masih panas dan masih bening. He..he..he..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="IN"> Namun ketika aku SMA, aku cuti dari pekerjaan itu. Lantaran kali ini aku yang diutus ayah untuk nyantri di pesantren. Jujur, saat itu ada perasaan sueneng yang luar biasa. Akhirnya.. terbebas juga dari tugas-tugas melelahkan itu, kataku. Namun setelah beberapa hari di pesantren, setiap kali melihat teh di dapur asrama, saat itu pula kerinduan pada ayah dan ibu begitu mengguncah. Kira-kira.. ayah udah di buatin teh belum ya sore ini&#8230;? itulah yang hinggap di pikiranku kalo aku ke dapur asrama. Tangan ini juga rasanya kangen ingin mengaduk teh spesial untuk ayah dan ibu, menghidangkannya, dan mencium punggung tangannya ketika mereka pulang dari jualan di toko. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="IN"> Saat-saat itu selalu tidak pernah kulupakan. Memang tidak ada yang spesial, tapi aku yang saat itu belum bisa melakukan apa-apa begitu bangga bisa menghilangkan dahaga mereka. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="IN"> Sore tadi, aku masih mengaduk teh untuk mereka. Seharusnya itu tugas si bontot yang saat ini sudah SMP, namun saat ini ia sedang mendapat giliran nyantri di pesantren. Sedang kakakku sudah tinggal bersama keluarga kecilnya di Kalimantan. jadi tugas tersebut tetap menjadi tanggung jawabku. Entah kenapa membuat teh saat ini semakin begitu nikmat, menghidangkan teh untuk ayah dan ibu di ruang tamu, kemudian bercengkrama dengan mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="IN">Pernah suatu hari, ketika aku sedang mengaduk teh di teko, adikku Fahmi berkomentar : “ga bosen apa mba asty&#8230; bikin teh melulu dari dulu” ketusnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="IN">Aku hanya tersenyum, “ya.. ini kan amalan unggulan mba asty mi..” jawabku asal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="IN">“amalan unggulan?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="IN">“iya.. jadi ntar kalo di akhirat ditanya Allah, amalan unggulan apa yang kamu punya, paling engga mba asty udah punya jawaban&#8230;.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="IN">“apa jawabannya?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="IN">“ya Allah,, sesungguhnya aku selalu membuatkan teh untuk kedua orang tua ku ikhlas karena-Mu.” Mendengar jawabanku, Fahmi langsung melotot kaget dan meledek,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="IN">“idddiiih&#8230; amalan unggulannya Cuma buat teh??? Gampang bangeeet” kata Fahmi berlalu cuek..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="IN">Aku juga tertawa mendengar jawaban ku tadi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>Yup, amalan unggulanku sederhana banget. Cuma buat teh ??</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="IN">Tapi kalo aku boleh jujur, di setiap kali aku membuatkan teh untuk ayah dan ibu, selalu tereirat doa agar Allah ridho dengan apa yang aku lakukan ini. Semoga secangkir teh ini kelak akan menjadi saksi tanda bakti ku kepada mereka yang tercinta.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="IN">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="IN">Dua puluh dua tahun sudah berlalu, namun belum ada yang bisa ku persembahkan untuk mereka selain secangkir teh itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="IN">Ya Rabbi&#8230;maaf kan aku..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="IN">Sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku waktu kecil.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/spesialsopayam.wordpress.com/41/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/spesialsopayam.wordpress.com/41/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/spesialsopayam.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/spesialsopayam.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/spesialsopayam.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/spesialsopayam.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/spesialsopayam.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/spesialsopayam.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/spesialsopayam.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/spesialsopayam.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/spesialsopayam.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/spesialsopayam.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/spesialsopayam.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/spesialsopayam.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/spesialsopayam.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/spesialsopayam.wordpress.com/41/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=spesialsopayam.wordpress.com&amp;blog=3992859&amp;post=41&amp;subd=spesialsopayam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spesialsopayam.wordpress.com/2008/06/26/cinta-secangkir-teh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9757f810923305dcd07ac58c6b3b945b?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">spesialsopayam</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://se.inf.ethz.ch/people/leitner/erl_g/image/tea_cup_small.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Masih Ada Jalan Lain&#8230;</title>
		<link>http://spesialsopayam.wordpress.com/2008/06/26/masih-ada-jalan-lain/</link>
		<comments>http://spesialsopayam.wordpress.com/2008/06/26/masih-ada-jalan-lain/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jun 2008 14:02:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>spesialsopayam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spesialsopayam.wordpress.com/?p=39</guid>
		<description><![CDATA[”Hari gini mau berhenti kerja? Mau makan apaan lo besok? Ini Jakartaaaaa&#8230; banyak orang susah cari kerja, eh elo udah kerja enak-enak malah pengen berhenti kerja.” Itulah kata-kata tajam temanku, saat aku mintai pendapatnya perihal keinginanku untuk berhenti dari tempat kerjaku yang dulu. Hampir semua temanku yang kumintai pendapat tidak setuju terhadap keinginanku itu. Semua [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=spesialsopayam.wordpress.com&amp;blog=3992859&amp;post=39&amp;subd=spesialsopayam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://s80.photobucket.com/albums/j180/penjagasapi/?action=view&amp;current=sunrise.jpg" target="_blank"></a></p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter" src="http://i80.photobucket.com/albums/j180/penjagasapi/sunrise.jpg" border="0" alt="Photobucket" /></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">”Hari gini mau berhenti kerja? Mau makan apaan lo besok? Ini Jakartaaaaa&#8230; banyak orang susah cari kerja, eh elo udah kerja enak-enak malah pengen berhenti kerja.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Itulah kata-kata tajam temanku, saat aku mintai pendapatnya perihal keinginanku untuk berhenti dari tempat kerjaku yang dulu. Hampir semua temanku yang kumintai pendapat tidak setuju terhadap keinginanku itu. Semua beranggapan posisiku di kantor sudah enak, gaji lumayan besar dan tiba-tiba ingin berhenti bekerja begitu saja adalah alasan yang sangat tidak masuk akal.</span><span id="more-39"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Tidak masuk akal mungkin bagi mereka, tapi sungguh sangat masuk akal bagiku yang akhir-akhir belakangan ini mengalami pergulatan batin untuk segera keluar dari kantor ini. Keadaan kantor yang sudah sangat tidak bersahabat dengan prinsipku adalah yang menjadi alasan utama. Adegan sogok menyogok atau suap menyuap antar klien dan karyawan merupakan adegan sehari-hari yang kerap aku lihat, dan aku yang sangat tidak setuju dengan hal itu sungguh tidak bisa diam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Awalnya aku berusaha mengingatkan teman-teman kerjaku yang berperilaku demikian, namun mereka selalu dengan santainya berkilah bahwa itu rezeki, jadi jangan ditolak. Aku tidak patah semangat, aku mencari jalan lain untuk membuat teman-temanku sadar. Aku selalu mengingatkan mereka di berbagai kesempatan, aku menerangkan bahwa uang sogokan dari klien yang mereka dapatkan itu tidak halal, dan banyak sekali dampak yang akan diperoleh apabila makan dari uang haram. Apalagi kita sebagai karyawan kan digaji memang untuk membantu klien, jadi sebenarnya tidak perlu ada adegan sogok menyogok agar proposal klien ingin cepat disetujui. Toh, pasti kita membantu apabila semuanya mengikuti prosedur. Dan lagi-lagi seperti biasa, penjelasanku selalu dibantah habis-habisan oleh mereka dengan pendapat yang bermacam-macam. Hatiku pun makin merintih, jujur aku sungguh takut apabila suatu hari nanti hal seperti itu akan menggoda imanku. Aku takut sekali bila harta akan menggelapkan mataku, yang akan membuat aku terperosok ke dalam lubang<span> </span>ketidakhalalan harta yang kuperoleh dan pada saatnya tiba kemiskinan akan terus membayangiku sehingga aku tidak mampu keluar dari lubang tersebut. Na’udzubillah min dzalik&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Dan keputusan berhenti kerja yang sudah dari awal aku niatkan akhirnya yang aku ambil. Memang kalau aku pikir-pikir gaji yang aku dapatkan sangatlah lumayan pada saat itu, dan aku belum mendapatkan pekerjaan pengganti, tapi aku sedang berusaha melamar kesana kesini yang insyaAllah akan ada jawabannya nanti jika saatnya tepat. Aku percaya Allah akan membantuku saat itu karena Allah-lah yang berkuasa mencukupi segala kebutuhan makhluk-Nya. Sekecil apapun makhluk di bumi atau di langit Dialah yang menanggung rezekinya. Binatang yang diciptakan untuk manusia saja ditanggung oleh Allah, apalagi aku, <span> </span>manusia, makhluk yang telah dimuliakan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Aku juga ingat dalam salah satu haditsnya, Rasulullah saw bersabda, <em>“Barangsiapa memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah), niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar dan untuk setiap kesempitannya kelapangan, dan Allah akan memberinya rezeki (yang halal) dari arah yang tiada disangka-sangka,”</em> (HR Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa’i, Ibnu Majah dan al-Hakim).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Aku pun mantap pindah kerja, aku tidak takut pendapat  teman-temanku yang menurut mereka  cari kerja itu susah karena yang kutau pintu rezeki milik Allah sangatlah banyak, tinggal bagaimana kita mengetuknya dan dengan aku berpindah kerja, aku berharap Allah akan membantuku dengan memperoleh rezeki dengan cara yang lain. Hal ini sesuai firman-Nya ;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span lang="FI">“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, Kemudian kematian menimpannya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya disisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”</span></em><span lang="FI"> (Al-Nisa’:100).</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/spesialsopayam.wordpress.com/39/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/spesialsopayam.wordpress.com/39/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/spesialsopayam.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/spesialsopayam.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/spesialsopayam.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/spesialsopayam.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/spesialsopayam.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/spesialsopayam.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/spesialsopayam.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/spesialsopayam.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/spesialsopayam.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/spesialsopayam.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/spesialsopayam.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/spesialsopayam.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/spesialsopayam.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/spesialsopayam.wordpress.com/39/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=spesialsopayam.wordpress.com&amp;blog=3992859&amp;post=39&amp;subd=spesialsopayam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spesialsopayam.wordpress.com/2008/06/26/masih-ada-jalan-lain/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9757f810923305dcd07ac58c6b3b945b?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">spesialsopayam</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i80.photobucket.com/albums/j180/penjagasapi/sunrise.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Photobucket</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Teman Baru</title>
		<link>http://spesialsopayam.wordpress.com/2008/06/26/teman-baru/</link>
		<comments>http://spesialsopayam.wordpress.com/2008/06/26/teman-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jun 2008 09:04:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>spesialsopayam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spesialsopayam.wordpress.com/?p=37</guid>
		<description><![CDATA[Semalam aku makan diluar bersama sahabatku. Kami makan di restoran cepat saji yang menyediakan fasilitas arena bermain untuk anak-anak didalamnya. Pengunjung di restoran malam itu sebenarnya tidak terlalu banyak, namun cukup terdengar ramai karena suara tawa dan canda anak-anak kecil yang bermain perosotan yang dibawahnya terdapat bola-bola plastik. Mereka kelihatan senang sekali. Aku mengamati beberapa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=spesialsopayam.wordpress.com&amp;blog=3992859&amp;post=37&amp;subd=spesialsopayam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://s80.photobucket.com/albums/j180/penjagasapi/?action=view&amp;current=Hugs.jpg" target="_blank"></a></p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter" src="http://i80.photobucket.com/albums/j180/penjagasapi/Hugs.jpg" border="0" alt="hugs" /></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Semalam aku makan diluar bersama sahabatku. Kami makan di restoran cepat saji yang menyediakan fasilitas arena bermain untuk anak-anak didalamnya. Pengunjung di restoran malam itu sebenarnya tidak terlalu banyak, namun cukup terdengar ramai karena suara tawa dan canda anak-anak kecil yang bermain perosotan yang dibawahnya terdapat bola-bola plastik. Mereka kelihatan senang sekali. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Aku mengamati beberapa anak perempuan yang asyik bermain sambil  mengobrol. Aku bisa mendengar bagaimana anak-anak itu berkenalan satu sama lain pada awalnya. Mereka tampak malu-malu untuk saling menanyakan nama mereka masing-masing dan menanyakan dengan siapa mereka datang ke restoran itu, lalu berlanjut ke pertanyaan-pertanyaan lain seperti rumahnya dimana, sekolah dimana, kelas berapa, dan  berbagai pertanyaan mendasar seperti orang yang baru kenal pada umumnya.</span><span id="more-37"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Aku sesekali tersenyum-senyum saat memperhatikan tingkah pola anak-anak kecil itu. Aku sangat kagum dengan mereka yang sama sekali tidak sadar bahwa mereka sedang menjalin tali silaturahim satu sama lain. Aku pun jadi teringat kejadian beberapa tahun lalu saat aku dan sekeluarga pindah rumah. Aku dan adikku awalnya enggan keluar rumah untuk bermain, karena kami tidak mengenal siapa-siapa saat itu. Tapi orangtua kami menyuruh kami berani keluar untuk mulai berkenalan dengan para anak-anak tetangga. Mereka menjelaskan bahwa bersilaturahim itu sangat baik, apalagi apabila kita yang memulainya. Karena didalam hadisnya </span>Hadis riwayat  	Anas bin Malik ra., ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: <em>&#8220;Barang siapa yang merasa  	senang bila dimudahkan rezekinya dan dipanjangkan usianya, maka hendaklah  	dia menyambung hubungan kekeluargaan (silaturahmi).&#8221;</em></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Orangtuaku <span> </span>juga menjelaskan bahwa bersilaturahim dengan tetangga itu sangat penting, karena tetangga adalah saudara terdekat kita, dan yang paling tau tentang keadaan kita. Bayangkan saja apabila kita tertimpa musibah saat di rumah, pasti yang akan kita mintai pertolongan pertama kali adalah para tetangga. Sungguh sangat tidak menyesal apabila kita senantiasa berbuat baik kepada tetangga kita.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Sambil menghabiskan makanan pesananku, aku kembali memperhatikan anak-anak kecil itu. Tampak salah satu dari mereka bergegas untuk pergi meninggalkan arena bermain karena sudah dipanggil ibunya yang sudah selesai makan dan hendak beranjak meninggalkan restoran. Namun, seorang anak kecil berkepang dua tiba-tiba berlari ke arah ibu dan anak tadi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">”Dinda&#8230; tunggu sebentar&#8230;Aku boleh nggak minta no telepon kamu?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Anak kecil yang bernama Dinda itu terlihat menoleh ke arah Ibunya guna meminta persetujuan sang Ibu. ”Boleh nggak Bu?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">”Boleh aja.. ’kan biar kalian bisa telpon-telponan.” jawab bijak sang Ibu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Anak-anak kecil itu tampak tersenyum. ”Aku juga minta nomer telepon kamu ya, Cha. </span><span lang="SV">Nomer teleponku 74587xx” Chacha kemudian terlihat sibuk menulis nomer telepon teman barunya itu di sebuah buku kecil.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">“Kalo aku 72067xx. ” sahut Chacha sambil menyerahkan kartu namanya. “Ati-ati ya Dinda… Kapan-kapan kita ketemu lagi yaa&#8230;”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="ES">“Kamu juga ya Cha&#8230; </span><span lang="SV">Daaagghhh Chacha…” sahut Dinda sambil pergi meninggalkan restoran.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Pandanganku tak lepas dari anak-anak kecil itu, sama seperti sebuah senyum yang tak berhenti tersungging manis  dibibirku. </span><span lang="SV">Sungguh i</span><span lang="FI">ndah sekali tali silaturahim yang baru saja mereka ukir. </span><span lang="SV">Aku sangat kagum sekali dengan usaha Chacha yang sedari kecil sudah berusaha memperbanyak tali silaturahmi dengan menambah teman baru, w</span><span lang="FI">alaupun awalnya sangat sederhana dengan saling bertukar nomer telepon. Sungguh luar biasa apabila mereka tidak sekedar menanyakan kabar lewat telepon, tetapi menjalin tali silaturahim yang lebih erat lagi dengan saling mengunjungi, saling memeberikan ilmu dan saling mengirim do’a suatu saat nanti. Subhanallah, sungguh tidak meruginya apabila kita memperbanyak silaturahim&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/spesialsopayam.wordpress.com/37/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/spesialsopayam.wordpress.com/37/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/spesialsopayam.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/spesialsopayam.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/spesialsopayam.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/spesialsopayam.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/spesialsopayam.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/spesialsopayam.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/spesialsopayam.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/spesialsopayam.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/spesialsopayam.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/spesialsopayam.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/spesialsopayam.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/spesialsopayam.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/spesialsopayam.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/spesialsopayam.wordpress.com/37/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=spesialsopayam.wordpress.com&amp;blog=3992859&amp;post=37&amp;subd=spesialsopayam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spesialsopayam.wordpress.com/2008/06/26/teman-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9757f810923305dcd07ac58c6b3b945b?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">spesialsopayam</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i80.photobucket.com/albums/j180/penjagasapi/Hugs.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">hugs</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sleep&#8230; oh sleep&#8230;</title>
		<link>http://spesialsopayam.wordpress.com/2008/06/26/sleep-oh-sleep/</link>
		<comments>http://spesialsopayam.wordpress.com/2008/06/26/sleep-oh-sleep/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jun 2008 03:20:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>spesialsopayam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spesialsopayam.wordpress.com/?p=35</guid>
		<description><![CDATA[Malam itu, ibu sama sekali tidak menegurku. Bahkan diantara keluarga, hanya aku yang tidak ditawari makan malam hari itu. Tau ga kenapa ? Cuma karena satu masalah, hari itu aku tidur siang. Sepele kan…? Tidak menurut ibu. Bagi ibu, jika anak perawannya tidur siang, itu adalah masalah besar. Ibu pernah bilang.. malu sama besan nanti, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=spesialsopayam.wordpress.com&amp;blog=3992859&amp;post=35&amp;subd=spesialsopayam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="entry-content" style="color:#990000;"><img class="alignleft" style="float:left;" src="http://d21c.com/DragonsDreams/gar/Sleep.jpg" alt="" width="303" height="228" /></p>
<p class="entry-content" style="color:#990000;">Malam itu, ibu sama sekali tidak menegurku. Bahkan diantara keluarga, hanya aku yang tidak ditawari makan malam hari itu.<br />
Tau ga kenapa ? Cuma karena satu masalah, hari itu aku tidur siang. Sepele kan…?<span id="more-35"></span></p>
<p style="color:#990000;">Tidak menurut ibu. Bagi ibu, jika anak perawannya tidur siang, itu adalah masalah besar. Ibu pernah bilang.. malu sama besan nanti, kalo anak perawannya sudah pada nikah,,, suaminya kerja cari uang, istrinya malah tidur siang. Bukan Cuma alasan itu aja, sejak SD aku ingat sekali, Ketika teman-teman di jemput ibunya untuk tidur siang. Aku malah dijemput untuk melakukan hal lain selain tidur siang. Itulah kenapa dari SD aku selalu diikutkan les, madrasah, dsb yang pasti waktu siangku digunakan untuk hal lain ketimbang tidur.</p>
<p style="color:#990000;">Tapi siang tadi… aku benar-benar bisa merasakan seperti yang orang kaya rasakan..<br />
Tidur siang di kamar, pake AC lagi (numpang kamar ibu)..<br />
Bangun-bangun.. ternyata di kulkas ada rujak.. Trus nyetel TV,,, eh depan TV ketiduran lagi.. Enak banget kan..<br />
Persis aktivitas yang teman-teman biasa lakukan. “sekali-kali memanjakan diriku” pikirku.</p>
<p style="color:#990000;">Ternyata pikiranku salah, aku bukan memanjakan diri, melainkan mencemplungkan diri ke omelan ibu. malam itu ibu marah-marah banget…. Yup, terkait dengan aku tidur siang tadi. Padahal.. aku kan ga pernah tidur siang.. Sebetulnya ibu pingin mendidik ku seperti apa sih… sampai-sampai anaknya ga boleh tidur siang…???</p>
<p style="color:#990000;">Tiba-tiba aku teringat seorang nenek di masjid Sunda Kelapa beberapa waktu lalu. Singkat cerita, beliau menceritakan pengalaman masa mudanya, yang sukses dengan perusahaannnya dan sudah mengelilingi dunia. Dari satu benua ke benua lain. Cerita di mulai dari caranya mengejar cita-cita untuk tetap bisa kuliah. Meskipun tidak ada biaya dan dalam kondisi hamil tua. Namun beliau saat ini mampu meraih gelar S2. Beliau juga becerita ttg perjalanan hidayahnya. Ketika dunia sudah dijelajahi, sama sekali tidak ada hasrat dan keinginan untuk mengunjungi makkah. Seandainya berkunjung pun hanya sejkedar rekreasi. Namun akhirnya.. di akhir masa-masa kejayaannya, Allah menyentuh hatinya, dan dia pun berhasil menggapai hidayah itu. Ujian pun tidak terhenti begitu saja. Beliau juga berjuang habis-habisan untuk mengenalkan islam pada suami dan anak-anaknya. Mulai dari masalah sholat sampai haji.alhamdulillah.. setahun sebelum wafat, suaminya insya allah sudah sempat mengecap manisnya iman dan merasakan nikmatnya hidayah. Sekarang beliau sudah memensiunkan dirinya, dengan menyibukkan diri menjadi jama’ah di masjid Sunda Kelapa. Saat-saat yang paling dirindukannya adalah hari sabtu dan minggu. Karena di hari itu, anak dan cucunya akan berkumpul di rumahnya. Ke empat anaknya sudah sukses semuanya. Mengelola perusahaan2 warisan darinya. “alhamdulillah.. saya bisa menikmati hari tua seperti yang saya cita-citakan..” ungkapnya dengan mata berbinar.</p>
<p><span style="color:#990000;">Aku yang menyimak ceritanya dari awal amat penasaran dengan rahasia di balik kesuksesannya.</span><br /><span style="color:#990000;"> “ siapa yang paling berpengaruh sehingga mengantarkan ibu seperti sekarang ini?” Tanya ku di satu kesempatan.</span><br /><span style="color:#990000;"> dengan yakinnya beliau menjawab… “ibu saya.. &#8220;</span></p>
<p><span style="color:#990000;">&#8220;saya ingat sekali bagaimana ibu mendidik saya saat kecil. Bahkan untuk tidur siang pun ibu tidak pernah memberi izin. Awalnya saya heran, kenapa ibu seperti itu. Ternyata saya tau sekarang.. bahwa hidup ini memang keras, dan tidak bisa dipersiapkan dengan persiapan yang biasa-biasa saja”</span>.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/spesialsopayam.wordpress.com/35/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/spesialsopayam.wordpress.com/35/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/spesialsopayam.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/spesialsopayam.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/spesialsopayam.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/spesialsopayam.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/spesialsopayam.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/spesialsopayam.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/spesialsopayam.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/spesialsopayam.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/spesialsopayam.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/spesialsopayam.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/spesialsopayam.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/spesialsopayam.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/spesialsopayam.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/spesialsopayam.wordpress.com/35/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=spesialsopayam.wordpress.com&amp;blog=3992859&amp;post=35&amp;subd=spesialsopayam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spesialsopayam.wordpress.com/2008/06/26/sleep-oh-sleep/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9757f810923305dcd07ac58c6b3b945b?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">spesialsopayam</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://d21c.com/DragonsDreams/gar/Sleep.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>My Hero : Ayah</title>
		<link>http://spesialsopayam.wordpress.com/2008/06/25/my-hero-ayah/</link>
		<comments>http://spesialsopayam.wordpress.com/2008/06/25/my-hero-ayah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jun 2008 23:45:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>spesialsopayam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spesialsopayam.wordpress.com/?p=34</guid>
		<description><![CDATA[Menjadi seorang ayah tentu sebuah tanggung jawab seorang laki-laki kepada dunia. Setiap lelaki belum tentu bisa menjadi seorang Ayah. Memperoleh panggilan itu saja, belum tentu bisa. Sebab ‘ayah’ hanya bisa dijabat dengan terhormat bagi mereka yang melahirkan generasi dari rahim istrinya sendiri. Membesarkan anak, mendidik, dan membinanya setiap masa. Ketika seorang laki-laki menerima peralihan perwalian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=spesialsopayam.wordpress.com&amp;blog=3992859&amp;post=34&amp;subd=spesialsopayam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;"><img class="alignleft" style="float:left;" src="http://sayapbarat.files.wordpress.com/2008/02/father.gif?w=222&#038;h=222" alt="" width="222" height="222" />Menjadi seorang ayah tentu sebuah tanggung jawab seorang laki-laki kepada dunia. Setiap lelaki belum tentu bisa menjadi seorang Ayah. Memperoleh panggilan itu saja, belum tentu bisa. Sebab ‘ayah’ hanya bisa dijabat dengan terhormat bagi mereka yang melahirkan generasi dari rahim istrinya sendiri. Membesarkan anak, mendidik, dan membinanya setiap masa.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;">Ketika seorang laki-laki menerima peralihan perwalian dari seorang ayah atas anak gadisnya, ia menggantikan hampir seluruh peran ayah sebelumnya. Bertanggung jawab atas keselamatan, penghidupan, perlakuan yang baik, pembinaan kualitas diri, dan seterusnya. Sampai-sampai jika kualitas iman seorang istri itu menurun di kemudian hari, merupakan bagian dari tanggung jawab suami yang kelak ditanyakan di akhirat. Karena seorang suami memang telah menjadi wali dalam hidupnya.<span id="more-34"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;">Di antara laki-laki di dunia ini ada ayah saya. Laki-laki dengan delapan orang anak, sedang saya laki-laki pertama setelah lima putrinya. Laki-laki penuh dengan perjuangan dan tak gentar menghadapi tantangan kehidupan.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;"><strong>Profesi Ayah.</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;">Ayah saya seorang sopir becak. Kendaraan roda tiga yang di sewanya tiap hari untuk membesarkan kami. Mengupayakan pendidikan kami. Menghidupi keluarga, bahkan juga tetangga. Jam kerja ayah saya dulu, ba’da subuh berangkat dan pulang menemani anak-anaknya sarapan sebelum berangkat sekolah. Lalu sekitar jam 10 pagi berangkat lagi, pulang ketika terik siang untuk istirahat sejenak. Dan melaju lagi sampai kira-kira jam 9 malam. Kesehariannya rutin dilakukan, dan dinikmatinya.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;">Becak yang dipakai oleh ayah saya, bukanlah miliknya. Melainkan harus setor sejumlah rupiah untuk bisa menggunakannya. Murah sih waktu itu kurang lebih Rp. 1.500,-/hari, namun biaya perawatan suku cadang, kondisi, dan kerusakan ada pada penyewa. Saya menyaksikan sendiri wujud becak yang ayah pakai setiap hari, lebih bersih dan terlihat terawat daripada kebanyakan teman-temannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;">Kadang juragan becak menarik becak-becaknya dari para penyewa, tanpa kompromi yang jelas. Sehingga dalam beberapa waktu kadang mencari kerja-kerja kasar yang lain seperti tukang bangunan, buruh tani, atau apa saja yang bisa diupayakan dari jasanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;">Satu waktu ketika saya berada jauh dari rumah, saya membayangkan ayah memilih sebuah becak dan membawanya pulang untuk dimilikinya, dan alhamdulillah hal itu terwujud. Sementara saya hanya bisa mendengar kabar saja, sembari jelas terlukis cairan bening menetes di sudut mata ayah saya.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;"><strong>Keras kepada Anak-anaknya.</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;">Saya melihat perlakuan tersebut hanya diterapkan pada anak-anaknya saja, kepada anak-anak orang lain seringkali justru memperlakukan dengan sayang dan manja. Untuk urusan belajar bisa lebih keras lagi, tepatnya tidak ada kompromi.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;">Yang paling saya ingat, saat tetangga yang jaraknya beda 3 rumah dari saya membeli Monopoli. Mainan tersebut sangatlah langka di daerah kami, tidak banyak orang mengerti, bahkan memiliki. Dan ketika saya tidak berada di rumah sekedar membaca atau mengerjakan PR, ayah mendapati saya melempar dadu dalam lingkaran permainan itu. Kemudian dipanggil keras-keras. Setelah keluar dari balik pintu tetangga saya, langsung sabetan batang pohon mendarat sangat keras di punggung saya.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;">Menangis sambil berlari ke rumah, menghindari pukulan berikutnya. Langsung belajar. Sesekali melihat luka dari cermin, terlihat jelas bekas merah memanjang diagonal dari sudut punggung kanan ke arah pinggul sebelah kiri. Mirip luka bekas ahli pedang mematahkan lawannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;">Bagi Ayah saya, melakukan apa yang menurut dia tidak baik, bakal menerima hadiah (punishment) yang tidak pernah dikira. Dan tanpa perjanjian yang jelas, semua hukuman berlaku kepada semua anak-anaknya. Kadang tetangga menyayangkan perlakuan keras yang dilihatnya dari Ayah saya. Kamipun pihak terdakwa, selalu berkecil hati bila tetangga cerita ini dan itu tentang ayah maupun tentang kami.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;"><strong>Murah Hati.</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;">Kesederhanaan hidup bagi kami, bukanlah sebuah hal yang harus dikasihani. Saya diajarkan akan : setiap apa yang dinikmati, harus ada keringat yang menetes sebelumnya. Namun kepada orang lain yang meminta, upayakan dapat membantu apa yang bisa kita berikan sekiranya bisa meringankan mereka.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;">Walaupun tidak begitu berkecukupan ayah saya tidaklah pelit. Ayah suka menolong orang lain, walau dia sendiri kadang kepayahan.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;">Pernah di rumah ada syukuran kelahiran adik ponakan saya, ayah saya menyimpan porsi tertentu sebelum proses aqiqah itu dimulai. Dan setelah acara selesai, tiba-tiba ada beberapa orang datang, yang sebelumnya dijemput oleh ayah saya, untuk kemudian makan bersama. Bahkan ayah saya masih memberinya rokok, walau dia sendiri sudah pensiun dari candunya.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;">Lain lagi cerita ketika sedang mencari-cari tarikan penumpang. Ia melihat anak perempuan menangis, lalu membawanya ke rumah. Diberinya makan, dipersilakan mandi dan dikasih baju walau tidak baru.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;">Katanya ia sedang kesusahan pulang ke Surabaya, karena ketinggalan rombongan. Setiap mendengar dan menyaksikan keluh kesah orang lain, ayah saya mencoba memikirkan bagaimana bisa membantunya, walau tidak seberapa.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;">Melihat wajah lesu dan capek dari perempuan itu, ayah saya menyuruhnya istirahat. Lalu ayah berkompromi dengan ibu saya untuk membantu membelikan tiket pulang ke Surabaya, dilakukannya diam-diam setelah hanyut dalam kisah sedih<span> </span>yang dialami perempuan itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;">Berangkatlah ayah saya ke agen tiket terdekat, sembari mencari-cari penumpang kendaraan roda tiganya.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;">Setelah ashar kira-kira, ayah saya pulang ke rumah. Mengantongi tiket perjalanan untuk satu orang ke Surabaya. Menjemput perempuan itu di rumah saya, memastikan tidak ada yang tertinggal, lalu mengantarnya ke agen bus patas. Selesai sudah misi kemanusiaannya hari itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;">Pulang ke rumah dengan hati dan pikiran tenang, tanpa ada masalah di depannya lagi hari itu. Setiba di rumah, justru heran ayah saya. Karena ibu dan adik saya yang kebetulan tidak sempat menyaksikan dia pulang, merasa kehilangan uang dan dompetnya. Walau jumlahnya tidak seberapa, bagi adik dan ibu saya, tabungan uang tersebut cukuplah berarti.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;">Ayah saya pun hanya bisa tersenyum, tidak banyak mempersoalkan, dan hanyalah menyalahkan diri sendiri, karena dia yang membawa hadir perempuan itu di rumah. Apa yang bisa dilakukan kecuali mengikhlaskannya, toh perempuan itu sudah dalam perjalanan yang tidak tahu pasti rimbanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;"><strong>Yang Saya Rindukan.</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;">Kira-kira awal tahun 2007 lalu saya mengajaknya membantu kerjaan di tempat saya bekerja. Salah satu developer perumahan, yang dikelola oleh seorang ustadz yang saya kenal baik dengannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;">Pagi berangkat ke proyek mencatat penggunaan material, kemudian sore pulang. Pekerjaan-pekerjaan di proyek manapun, memang menguras tenaga. Tak heran sampai di kamar, ayah saya tertidur pulas. Bangun ketika maghrib lalu berangkat ke mushola terdekat, lalu istirahat lagi kira-kira pukul 9 malam.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;">Saya heran dengan ayah saya, hampir setiap tengah malam sekitar jam 1.00, beliau bangun, lalu mengambil air wudhu. Dan melakukan sholat sunah seadanya saat hampir kebanyakan orang tertidur lelap.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;">Biasanya di kamar saya tidur sejadinya di lantai, dan ayah saya mencuri-curi tempat untuk melakukan sholat malam. Dalam keadaan setengah tidur, kadang saya sekilas melihat, tapi berat biasanya untuk bergeser pindah tidur, apalagi berdiri mengambil wudhu.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;">Semenjak saya kuliah di UI, diantara tamu-tamu yang menginap di kamar saya, beliaulah tamu yang paling banyak sholat tahajudnya di kamar saya dibanding yang lain. Mengajaknya sholat saja dahulu begitu sulit, alhamdulillah Allah mengizinkan ayah saya menerima hidayahNya, dan memegangnya kuat-kuat.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;">By : Fighter495</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/spesialsopayam.wordpress.com/34/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/spesialsopayam.wordpress.com/34/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/spesialsopayam.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/spesialsopayam.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/spesialsopayam.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/spesialsopayam.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/spesialsopayam.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/spesialsopayam.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/spesialsopayam.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/spesialsopayam.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/spesialsopayam.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/spesialsopayam.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/spesialsopayam.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/spesialsopayam.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/spesialsopayam.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/spesialsopayam.wordpress.com/34/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=spesialsopayam.wordpress.com&amp;blog=3992859&amp;post=34&amp;subd=spesialsopayam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spesialsopayam.wordpress.com/2008/06/25/my-hero-ayah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9757f810923305dcd07ac58c6b3b945b?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">spesialsopayam</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sayapbarat.files.wordpress.com/2008/02/father.gif" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Ketika Memilih Sederhana Saja..</title>
		<link>http://spesialsopayam.wordpress.com/2008/06/25/ketika-memilih-sederhana-saja/</link>
		<comments>http://spesialsopayam.wordpress.com/2008/06/25/ketika-memilih-sederhana-saja/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jun 2008 23:37:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>spesialsopayam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spesialsopayam.wordpress.com/?p=33</guid>
		<description><![CDATA[Aku paling senang belajar dari mengamati seseorang. Sebagai karyawan di sebuah butik, tentunya aku bertemu dengan orang-orang yang sangat peduli dengan penampilan. Mereka para wanita yang selalu ingin tampil beda, terbaru, dan tidak pasaran. Banyak juga dari mereka yang bersaing satu sama lainnya, bukan hanya bersaing masalah penampilan, melainkan juga ‘gengsi’. Yaitu dengan membeli produk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=spesialsopayam.wordpress.com&amp;blog=3992859&amp;post=33&amp;subd=spesialsopayam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter" src="http://www.geocities.com/kmpaganeshaitb/angsa.JPG" alt="" /></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Aku paling senang belajar dari mengamati seseorang. Sebagai karyawan di sebuah butik, tentunya aku bertemu dengan orang-orang yang sangat peduli dengan penampilan.<span> </span>Mereka para wanita yang selalu ingin tampil beda, terbaru, dan tidak pasaran. Banyak juga dari mereka yang bersaing satu sama lainnya, bukan hanya bersaing masalah penampilan, melainkan juga ‘gengsi’. Yaitu dengan membeli produk yang paling mahal. (kalo dari kami pribadi sih untung-untung aja, toh justru malah produk mahal yang laris ketimbang produk murah, hehehe&#8230;)</span><span id="more-33"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Banyak sekali pengalaman yang aku peroleh setiap harinya dari mengamati para tamu tersebut. Pernah suatu hari aku bertemu dengan tamu yang turun dari mobil mewah, sepatunya kalo jalan bunyi, tasnya aja mewah, handphone mahalnya di genggam terus. Kita-kita yang ngeliat pasti akan yakin deh kalo tamu tersebut akan memborong banyak produk yang kita jual..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Tapi nyatanya?? Setelah beberpa kali datang berkunjung, akhirnya diketahuilah siapa sebenarnya mereka. Justru kebanyakan orang-orang seperti merekalah yang gampang sekali berhutang dan susah untuk ditagih. Sering juga dari mereka yang mengemis-ngemis diskon kalau<span> </span>belanja. (plisss deeeh)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Sebaliknya , kami pun juga menerima tamu-tamu yang bisa dibilang biasa. Dengan sandal jepit, baju seadanya tanpa perhiasan, kadang mereka naik angkot atau ojek, masuk ke butikku pun lebih senang melepas alas kaki kemudian duduk berbaur dengan kami. Namun siapakah mereka? Ternyata justru merekalah pembeli butik yang sebenarnya, merekalah yang memborong semua produk-produk di butik. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Wow&#8230;di balik baju sederhananya, mereka<span> </span>menyimpa secarik kertas cek yang siap dicairkan dengan jumlah yang tidak tanggung-tanggung. Bahkan tak jarang pula kami para karyawan mendapat ‘cipratan’ dari rejekinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Hm.. ternyata kemasan memang tidak menjamin. Banyak orang yang terlihat sederhana namun nyatanya ia adalah sosok yang hebat. Kehebatan tersebut bukan lantaran mereka membeli produk kami dengan lunas, melainkan dari cara dan sikap mereka menghormati kami yang seorang karyawan biasa saja. Dan yang lebih mengagumkan lagi, ternyata para wanita yang tampil sederhana tersebut adalah sosok-sosok yang luar biasa, sebagian dari mereka adalah seorang direktur, dokter, pengusaha, kepala sekolah, psikolog, model, dsb yang selalu membuat kami terpengarah ga percaya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Entah kenapa, aku jadi berkesimpulan ternyata hidup sederhana itu tidaklah mudah, maka mereka yang mampu menerapkan itu adalah mereka yang hebat. Mereka mampu menahan apa yang ada pada dirinya. Mereka tidak menonjolkan apa yang dimilikinya, mereka juga tidak mengharapkan penghormatan untuk dirinya. Mereka malah merendah, seperti filosofi padi yang ‘semakin masak semakin menunduk’. Bahkan sering pula mereka menutupi siapa diri mereka sebenarnya. *Nyamar gitu&#8230;*</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Ngomong-ngomong tentang menyamar, dulu Khalifah Umar juga pernah menyamar, malam-malam menyelinap ke perkampungan untuk mengetahui kondisi umatnya. Bayangkan&#8230; padahal beliau adalaha khalifah yang saat ini sama statusnya dengan presiden. Kalau tidak ada sifat sederhana dalam diri Umar, mana mungkin Umar bersedia menyamar menjadi rakyat biasa untuk terjun langsung mencari tau kondisi umatnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Adalagi sosok sahabat yang hidupnya juga teramat sederhana. Ia adalah AbuDzar al-Ghifari. Rasulullah pernah berkata tentang dirinya : “Abu Dzar berjalan sendirian, mati sendirian, dan akan dibangkitkan sendirian.” Dan ternyata benar, menjelang ajalnya Abu Dzar meminta kepada istri dan anaknya, “Mandikanlah aku, kafani, lalu letakkan aku di tengah jalan, dan siapapun yang petama lewat di jalan itu katakan kepadanya, ini adalah mayit Abu Dzar Al-Ghifari sahabat Rasulullah, maka bantulah kami menguburkannya” Dan ketika Abu Dzar meninggal anak dan istrinya melakukan hal tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Ya, kesederhanaan telah dibawanya sampai ke liang lahat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span lang="IN">Manusia terlahir sendirian dengan telanjang tanpa membawa apa-apa, begitupun kelak ketika ia meninggal, ia akan menghadap tuhan sendirian, telanjang, dan tanpa membawa apa-apa. </span></em><span lang="IN">Begitulah kurang lebih nasihat dari orang bijak. Sehingga tak ada <span> </span>yang harus dibanggakan di dunia ini, toh segalanya kelak ga akan kita bawa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Rasulullah dan istrinya Khadjiah pun seperti itu. Kita tau bagaimana keberhasilan Rasulullah dan Khadijah dalam bisnisnya. Jelas disana tergambar bagaimana kekayaan yang Rasulullah miliki. Namun tak satupun ada dalam sejarah kehidupan Rasulullah yang hidup berfoya-foya. Malahan sebaliknya, kisah-kisah Rasul selalu menggambarkan kehidupan yang sederhana. Rumah beralas tanah, kasur beralas tikar, makanan hanya roti gandum yang tidak mengenyangkan, dan pakaian pun ala kadarnya. Apakah Rasulullah pelit? Sama sekali tidak. Yang ada malah sebaliknya, Rasulullah menginfakkan seluruh hartanya di jalan Allah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Lalu bagaimana dengan dirinya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Begitulah indahnya orang-orang hebat yang sesungguhnya. Karena kehidupannya yang sudah cukup sempurna, sehingga ia tak lagi merasa nyaman dengan kemegahan dunia, mereka pun memilih hidup sederhana yang akhirnya semakin menunjukkan kualitas hidup mereka. Mereka tidak meletakkan kekayaan itu di hati, melainkan di tangan untuk di perjuangkan di jalan Allah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Setidaknya semua ini memberikan pelajaran bagiku, yang masih suka memandang orang dari kekayaan materinya semata. Dan masih suka tergoda dengan kemegahan dunia. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span lang="IN">Rasulullah Saw mengingatkan : “Seandainya manusia mempunyai dua lembah dari emas, niscaya ia akan menginginkan tiga lembah. Tidak ada yang bisa mengenyangkan perutnya kecuali tanah</span></em><span lang="IN">.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span lang="IN">Astaghfirullah&#8230;.</span></em><span lang="IN"></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/spesialsopayam.wordpress.com/33/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/spesialsopayam.wordpress.com/33/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/spesialsopayam.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/spesialsopayam.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/spesialsopayam.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/spesialsopayam.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/spesialsopayam.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/spesialsopayam.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/spesialsopayam.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/spesialsopayam.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/spesialsopayam.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/spesialsopayam.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/spesialsopayam.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/spesialsopayam.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/spesialsopayam.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/spesialsopayam.wordpress.com/33/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=spesialsopayam.wordpress.com&amp;blog=3992859&amp;post=33&amp;subd=spesialsopayam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spesialsopayam.wordpress.com/2008/06/25/ketika-memilih-sederhana-saja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9757f810923305dcd07ac58c6b3b945b?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">spesialsopayam</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.geocities.com/kmpaganeshaitb/angsa.JPG" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>BirruL WalidaiN..</title>
		<link>http://spesialsopayam.wordpress.com/2008/06/24/birrul-walidain/</link>
		<comments>http://spesialsopayam.wordpress.com/2008/06/24/birrul-walidain/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jun 2008 06:08:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>spesialsopayam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spesialsopayam.wordpress.com/?p=30</guid>
		<description><![CDATA[Ingat kisah Maling Kundang ? itu loh.. dongeng klasik yang selalu di ulang-ulang setiap generasinya. Segala bentuk cerita baik di komik, buku, teater, bahkan seinetron selalu mengulang kisah malin kundang tersebut. Yup, lantaran dongeng tersebut sarat makna. Yaitu tentang seorang anak yang durhaka kepada orang tuanya. Mengharukan memang, terlebih ketika si ibu di campakkan begitu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=spesialsopayam.wordpress.com&amp;blog=3992859&amp;post=30&amp;subd=spesialsopayam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter" src="http://muhtarsuhaili.files.wordpress.com/2007/05/kasih-dan-cinta-lillahi-taala.jpg?w=387&#038;h=273" alt="" width="387" height="273" /></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Ingat kisah Maling Kundang ? itu loh..  dongeng klasik yang selalu di ulang-ulang setiap generasinya. Segala bentuk cerita baik di komik, buku, teater, bahkan seinetron selalu mengulang kisah malin kundang tersebut. Yup, lantaran dongeng tersebut sarat makna. Yaitu tentang seorang anak yang durhaka kepada orang tuanya. Mengharukan memang, terlebih ketika si ibu di campakkan begitu saja.</span><span id="more-30"></span><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> Membahas lebih jauh tentang si Malin Kundang, sebenarnya ada lagi kisah yang lebih mengharukan tentang seorang anak dan ibunya. Saat itu ada seorang sahabat Rasulullah yang sedang mengalami sakaratul maut. Namun Allah tidak juga mencabut ajalnya. Berhari-hari ia mengalami sakaratul maut yang menyakitkan tersebut. Sampai akhirnya datanglah Rasulullah saw. Melihat kondisi tersebut Rasulullah langsung bertanya siapakah Ibu dari sahabat tersebut. Dan Rasul meminta sahabat untuk memanggilnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Tak lama kemudian, wanita itu pun datang. Kemudian Rasulullah berkata kepadanya, “Wahai ibu, adakah kesalahan dari anak mu ini yang masih mengganjal di hatimu?’</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Melihat kondisi anaknya yang begitu payah sang Ibu menangis dan memeluknya. “Wahai anakku, sesungguhnya saat ini aku sudah memafkaan semua kesalahanmu.” Tak lama setelah mendengar pernyataan tersebut malaikat pun mencabut ajalnya dengan tenang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Weew.. kebayang ga sih, sahabat tersebut susah sakaratul mautnya lantaran ia masih punya kesalahan kepada ibunya. Dan sampai ibunya memaafkan kesalahannya baru deh ia bisa meninggal dengan tenang. Nah lho. Gimana dengan kita ya….?? Yang mungkin sering banget nyakitin hati orang tua. Bener ga? Mungkin ga kerasa sih, toh kita kan muslimah, ga mungkin berniat nyakitin orang tua,  ngeluarin kata-kata kasar apalagi kata-kata ‘kebun binatang’ yang biasa di gunain sama preman jalanan. Tapi.. pastilah kita pernah membuat orang tua kesal, mulai dari hal sepele aja ; ngegerutu ketika disuruh, ga nurut kalo dibilangin, bohong sedikit-sedikit, bahkan kadang juga ga nepatin janji, dsb.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Wuiiih,,, kalo diinget-inget, buanyak deh hal yang sering membuat orang tua kita kesel. Tapi coba tanya deh ke ibu atau ayah mu, apakah mereka kesel dengan perbuatan yang udah kita lakuin itu? Pastilah dengan jujur jawaban mereka ‘iya’.Namun dalam beberapa detik kemudian jawaban tersebut berubah menjadi ‘tidak’. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Yup, karena mereka bisa dengan mudah memaafkan dan melupakan kesalahan kita. Hm..hebat kan?  emang hebat ya hati para orang tua, ibu khususnya. Entah terbuat dari apa hingga hati mereka selalu saja penuh cinta dan maaf untuk anak-anaknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Aku jadi teringat ungkapan seorang aktor Amerika ketika ia berbicara tentang orang tuanya. Katanya  “Yang menyenangkan bersahabat dengan orang tua adalah apapun yang kita lakukan mereka tetap mencintai kita.” Begitulah kurang lebih gambaran kasih sayang orang tua kepada kita. Jurang hatinya yang terdalam pun ternyata masih menyimpan cinta dan maaf untuk anak-anaknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Karena hal tersebutlah, maka tak aneh perintah Allah untuk tunduk dan patuh kepada orang tua begitu detail dan rinci. Allah menuliskan perintah berbuat baik kepada orang tua dalam Al-Qur&#8217;an yang berlaku sepanjang masa. maka kewajiban untuk berbuat baik terhadap orang tua pun berlaku sepanjang masa, meski mereka telah tiada, selagi  ajal belum mencabut nyawa kita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="color:#993366;"><em><span style="font-style:normal;" lang="IN">“ </span></em></span></em><span style="color:#993366;"><em></em></span><span style="color:#993366;"><em><span style="font-style:normal;" lang="IN">Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan &#8220;ah&#8221; dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: &#8220;Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil&#8221;. Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orang-orang yang baik, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat. (Al-Isra : 23-25)</span></em></span><em><span style="color:#993366;"><em></em></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="color:#993366;"><em><span style="font-style:normal;" lang="IN"> </span></em></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/spesialsopayam.wordpress.com/30/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/spesialsopayam.wordpress.com/30/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/spesialsopayam.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/spesialsopayam.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/spesialsopayam.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/spesialsopayam.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/spesialsopayam.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/spesialsopayam.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/spesialsopayam.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/spesialsopayam.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/spesialsopayam.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/spesialsopayam.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/spesialsopayam.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/spesialsopayam.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/spesialsopayam.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/spesialsopayam.wordpress.com/30/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=spesialsopayam.wordpress.com&amp;blog=3992859&amp;post=30&amp;subd=spesialsopayam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spesialsopayam.wordpress.com/2008/06/24/birrul-walidain/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9757f810923305dcd07ac58c6b3b945b?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">spesialsopayam</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://muhtarsuhaili.files.wordpress.com/2007/05/kasih-dan-cinta-lillahi-taala.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://spesialsopayam.wordpress.com/2008/06/23/27/</link>
		<comments>http://spesialsopayam.wordpress.com/2008/06/23/27/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jun 2008 17:41:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>spesialsopayam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spesialsopayam.wordpress.com/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[Dear Diary,,, Di.. aku mau cerita. Tapi cerita kali ini beda ga seperti cerita-cerita sebelumnya. Karena hari ini aku melakukan hal terbodoh ry, aku melakukan kesalahan yang ga tau bagaimana bisa menebusnya. Padahal ini kan bulan Ramadhan Ry.. tapi aku malah berbuat kesalahan itu. Duuuh Ry,,,,malu bangeeet&#8230; aku kan muslimah, masa kaya gini siy.. =(( [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=spesialsopayam.wordpress.com&amp;blog=3992859&amp;post=27&amp;subd=spesialsopayam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#800080;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><strong>Dear Diary,,,</strong></span></em></span><img class="alignleft" style="float:left;" src="http://www.pet-pet-blog.net/wp-content/uploads/2007/08/diary.jpg" alt="" width="270" height="207" /></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="color:#800080;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span></span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span></span></span></strong><strong><span style="color:#800080;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"></span><br />
</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="color:#800080;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Di.. aku</span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">mau cerita. Tapi cerita kali ini beda ga seperti cerita-cerita sebelumnya. Karena hari ini aku melakukan hal terbodoh ry, aku melakukan kesalahan yang ga tau bagaimana bisa menebusnya. Padahal ini kan bulan Ramadhan Ry.. tapi aku malah berbuat k</span></span></strong><strong><span style="color:#800080;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">esalahan itu. </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#800080;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Duuuh Ry,,,,malu bangeeet&#8230; aku kan muslimah, </span></span></strong><strong><span style="color:#800080;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">masa kaya gini siy.. =((</span><span id="more-27"></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#800080;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Jadi ceritanya, tadi aku buka puasa di masjid kampus. kamu tau bu Zaenab kan Ry? Itu loh.. ibu-ibu yang biasa bersih-bersih di masjid, khususnya di bagian wanita, dia biasa ngurusin mukena-mukenanya jamaah wanita. Kita biasanya menyebut bu Zaenab itu ibu Masjid. Karena beliau full di masjid setiap hari. Dari segi usia bu Zaenab memang sangat tua, jalannya aja sudah membungkuk, tapi meski begitu ia tetap gesit Ry.. kalo jalan cepet, beliau juga rajin.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#800080;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Kita-kita mahasiswa biasa memangil</span></span></strong><strong><span style="color:#800080;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">nya Nenek. “Assalamu’alaikum Nek&#8230;” begitulah para mahasiswa menyapa bu Zaenab yang selalu duduk di pintu gerbang masjid sambil menjaga dagangannya. Oya Ry, untuk tambahan hidup bu Zaenab juga jualan makanan dan minuman di depan masjid lho..rajin kan !! </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><strong><span style="color:#800080;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Bu Zaenab itu ba</span></span></strong><strong><span style="color:#800080;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">ik Ry, </span></span></strong><strong><span style="color:#800080;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">kata-katanya selalu berisi doa dan nasihat. Apalagi kalo kita lagi ujian, biasanya banyak mahasiswa ya</span></span></strong><strong><span style="color:#800080;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">ng numpang belajar di masjid, dan di saat itu pula mahasiswa banyak yang minta doain ke bu Zaenab, “Nek.. doain kita dong.. seminggu ini ujian niy&#8230;” “iya.. mudah-mudahan Allah selalu memberi kemudahan ya Nak.., belajar yang rajin juga, banyak berdoa, bla..bla..bla&#8230;” nah,, kalo udah nasihatin dan do</span></span></strong><strong><span style="color:#800080;"><img class="alignleft" style="float:left;" src="http://isinmawa.files.wordpress.com/2007/09/nenek-qurban.gif?w=198&#038;h=271" alt="" width="198" height="271" /></span></strong><strong><span style="color:#800080;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">ain, ceramahnya jadi puanjaaang deeeh, hehehe&#8230;.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#800080;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Sebeneranya waj</span></span></strong><strong><span style="color:#800080;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">ar</span></span></strong><strong><span style="color:#800080;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></span></strong><strong><span style="color:#800080;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">banget kalo kita-kita pada minta doain, soalnya bu Zaenab itu soleh buanget. Waktu kosongnya selalu digunakan untuk i’tikaf di masjid, entah itu zikir lah, atau baca Al-Qur’an. Shalat sunnahnya juga kayanya ga pernah bolong deh Ry. Udah gitu, jauh sebelum azan bu Zaenab itu udah stand by di atas sajadahnya. Di shaf paling sebelah kanan bagian wanita.<span> </span>Sepertinya beliau sangat menanti-nantikan waktu berjumpa dengan Allah. </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#800080;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Nah.. mungkin karena itulah makanya beliau tidak suka kalo ada yang mengganggu kekhusyu’an masjid. Jangan anggep sepele untuk masalah yang satu ini, karena bu Zaenab bisa ‘mengomel’ kepada jamaah yang ga tertib dan mengganggu kekhusyu’an sholat. Kalo udah ‘ngomel..” waah sosok bu Zaenab bisa berubah 180 derajat deh Ry.. bu Zaenab jadi yang super duper judes gitu, dan suara omelannya bisa mengguncangkan s</span></span></strong><strong><span style="color:#800080;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">eisi masjid. Dan otomatis, kita yang dimarahin akan malu tujuh hari tujuh malem. duuh malu&#8230; *nutup muka pake tangan*</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#800080;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Dan hari ini, aku merasakan malu yang teramat itu Ry. Yup, bu Zaenab marah-marah.. gara-gara aku menganganggu kekhusyu’annya. Hiks&#8230;</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#800080;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Saat itu, ba’da shalat maghrib berjamaah, aku dan teman-teman asyik menyantap makanan buka puasa sambil ngobrol-ngobrol santai. Tak terasa setengah jam berlalu, kue-kue pun sudah habis, namun kita belum beranjak juga dari masjid, kita malah asyik melanjutkan obrolan yang lagi seru. Kemudian bu Zaenab datang membersihkan piring-piring dan gelas yang berserakan, sambil berbicara kepada kita, “Nak.. ayo cepetan siap-siap, sebentar lagi azan isya,, nanti ga keburu teraweh loh..” kata Bu Zaenab. Kita tau maksud bu Zaenab adalah mengingatkan kita bahwa yang rumahnya jauh harus segera pulang, dan yang ingin teraweh di kampus segera siap-siap. Tapi kita terlalu asyik dengan obrolan hangat itu, akhirnya kita pun mengacuhkan beliau. Sampai akhirnya masjid sudah terlihat ramai di penuhi jamaah yang ingin sholat teraweh. Kita pun memutuskan untuk bubar. Disaat yang bersamaan itu pula azan isya pun berkumandang.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#800080;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Karena rumah ku jauh dari kampus, akhirnya aku memutuskan untuk teraweh di masjid kampus aja. Aku dan satu orang teman ku langsung menuju tempat wudhu. Namun karena banyak jamaah, terpaksa kita harus ikutan antri ngambil wudhu.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#800080;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Setelah selesai wudhu kita langsung bergegas masuk masjid. Niat banget mau ngambil mukena di lemari masjid. Eh.. pas sampe sana, ga taunya mukenanya udah kosong. (bu Zaenab memang biasa merapikan mukena jika ada jamaah dari luar). Akhirnya kami bergegas menyelinap ke shaf paling depan untuk minta mukena ke Bu Zaenab. Sementara Imam sudah Qomat dan shalat Isya segera di mulai.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#800080;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Setelah beahasil menyelinap jamaah ke shaf paling depan, kita pun langsung mendekat ke Bu Zaenab, terlihat di sana bu Zaenab sudah berdiri bersiap untuk takbiratul ihram.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#800080;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ibu.. maaf, bisa pinjem mukenanya dua..?” kataku berbisik ke bu Zaenab. Namun alangkah terkejutnya aku melihat wajah bu Zaenab yang teramat marah. Dan tak lama kemudian terdengarlah suara teriakan beliau yang memaki-maki kami. </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#800080;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“mukena ????? dari tadi saya sudah bilang&#8230; siap-siap untuk teraweh !!!!! Sekarang saya mau shalat malah di gangguin&#8230;.” </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#800080;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“kamu tau ga sih, ini tuh bulan Ramadhan, saya pingin shalat berjamaah, biarin aja dosa kalian udah mendzhalimi orang tua..!!!”</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#800080;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Bu Zaenab terus marah-marah sambil teriak-teriak dan membuka bufet masjid. Beliau teriak-teriak sambil membanting seisi lemari masjid. Mukena-mukena di lempar berhamburan. semua jamaah kaget juga bercampur takut melihat bu Zaenab yang sebegitu marahnya. Sementara Imam shalat juga sempet menunda takbiratul ihram sampai suara teriakan bu Zaenab sedikit mereda. Sedangkan aku dan temanku, hanya bisa beristighfar dan mengumpati rasa takut yang luar biasa. Temanku spontan gemetaran melihat kemarahan bu Zaenab.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#800080;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Shalat Isya sudah di mulai, bu Zaenab masih marah-marah. Beberapa jamaah ada yang memperhatikan ada juga yang mengacuhkan. Kemudian sambil marah-marah bu Zaenab menangis. Dengan suara yang gemetaran beliau menghardik kami dengan jari telunjuknya “Dosa kalian.. telah mendzhalimi orang tua”. “Gara-gara kalian saya jadi tidak bisa ikut takbiratul Ihram&#8230;’ katanya dengan suara terbata. Aku terdiam cukup lama mendengarkan kalimat itu. Kerongkonganku serasa tercekik, sakit sekali.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#800080;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Ketika Shalat Isya selesai, semua mata jamaah langsung menuju ka arah kami. Aku hanya menunduk.. tanganku sengaja kusibukkan dengan berzikir biar tidak ketahuan kalo aku sedang gemeteran. Ingin rasanya aku menangis saat itu juga, kalimat terakhir bu Zaenab benar-benar tidak bisa aku lupakan. Entah apa jadinya aku nanti jika mendzhalimi orang tua yang mengabdikan dirinya pada rumah Allah. Namun sempat juga terbenak di kepala, ‘”kok bu Zaenab sampe sebegitunya ya.. Cuma gara-gara ga bisa takbiratul ihram ? Toh beliau juga ikut berjamaah kok di rakaat pertama”. Aneh.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#800080;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Seusai Shalat Isya aku memutuskan untuk langsung meminta maaf kepada bu Zaenab. Namun ketika aku menghampirinya, ku lihat bu Zaenab sedang berdoa sambil berlinang air mata. Wajahnya begitu penuh penyesalan. “Ya Allah.. ampuni hamba-Mu ini, yang tidak bisa beramal banyak karena hamba sudah lemah, hamba juga tidak bisa berinfaq karena hamba orang tak punya, hamba juga tak punya amalan yang bisa diunggulkan, <span> </span>namun hamba masih saja terlambat untuk menghadap-Mu.. maafkan hamba ya Allah.. sungguh hamba menyesal, sempurnakanlah shalat hamba yang tidak sempurna ini&#8230;” </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#800080;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Deg. Tiba-tiba saja hati ini mendesir mendengar untaian doa dari bu Zaenab. Rasa malu dan perasaan bersalah bercampur menjadi satu menggelayuti hati ini. Aku tau, bu Zaenab tidak akan memaafkan aku saat itu. Akhirnya aku memutuskan pulang dengan perasaan menyesal.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#800080;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Sepanjang perjalanan pulang aku mengenang peristiwa tadi. Tiba-tiba air mata ini mengalir. Entah kenapa aku jadi iri dengan bu Zaenab. Yang memiliki perasaan sangat sedih hanya karena terlambat takbiratul Ihram. Bu Zaenab merasa menyesal karena terlambat berjumpa dengan Allah. Sebegitu rindukah ?</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#800080;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Sedangkan aku, jangankan sedih.. perasaan menyesal pun tak ada jika aku terlambat berjamaah. Bahkan terkadang aku sengaja menerlambatkan diri untuk tidak berjamaah hanya karena capek atau alasan yang ga penting lainnya. Ya Allah.. entah sekeras apakah hati ku ini.. bahkan terkadang aku juga suka menunda-nunda shalat atau malah tidak shalat sama sekali.. </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#800080;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Hari ini aku mendapatkan pelajaran dari kesalahanku Di&#8230;. Pelajaran yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidup. Bahkan sampai saat ini, ketika aku sedang males dan suka menunda-nunda shalat, wajah bu Zaenab senantiasa hadir dan mengingatkanku&#8230;</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#800080;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“karena aku juga tak punya amalan yang unggul untuk bisa berjumpa dengan Allah nanti&#8230;”</span></strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"></span></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#800080;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#800080;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#800080;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Nb: keesokan harinya aku langsung minta maaf ke bu Zaenab, namun ia bilang ia sudah memaafkannya saat itu juga. Dan seperti biasanya, bu Zaenab malah mendoakan ku agar jadi anak yang sholihah dan sukses dunia akhirat.. *amin&#8230;* </span></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#800080;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#800080;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Terima Kasih bu Zaenab =)</span></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#800080;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">ramadhan 2004.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/spesialsopayam.wordpress.com/27/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/spesialsopayam.wordpress.com/27/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/spesialsopayam.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/spesialsopayam.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/spesialsopayam.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/spesialsopayam.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/spesialsopayam.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/spesialsopayam.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/spesialsopayam.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/spesialsopayam.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/spesialsopayam.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/spesialsopayam.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/spesialsopayam.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/spesialsopayam.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/spesialsopayam.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/spesialsopayam.wordpress.com/27/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=spesialsopayam.wordpress.com&amp;blog=3992859&amp;post=27&amp;subd=spesialsopayam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spesialsopayam.wordpress.com/2008/06/23/27/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9757f810923305dcd07ac58c6b3b945b?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">spesialsopayam</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.pet-pet-blog.net/wp-content/uploads/2007/08/diary.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://isinmawa.files.wordpress.com/2007/09/nenek-qurban.gif" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Indah Bila Semua Ikhlas</title>
		<link>http://spesialsopayam.wordpress.com/2008/06/23/tugas-rumah/</link>
		<comments>http://spesialsopayam.wordpress.com/2008/06/23/tugas-rumah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jun 2008 10:55:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>spesialsopayam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spesialsopayam.wordpress.com/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[Huuhh.. Bete.. hari minggu bukannya bisa santai-santai di rumah, bisa molor ampe siang, eh yang ada malah disuruh-suruh melulu. Begini nih kalo nggak ada pembantu di rumah, jadinya pas hari minggu aku nggak bisa santai-santai, yang ada malah disuruh bantuin mama bersih-bersih seluruh rumah. Daripada pusing mendengarkan suara berisik mama yang tak henti-hentinya menyuruhku membantunya, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=spesialsopayam.wordpress.com&amp;blog=3992859&amp;post=25&amp;subd=spesialsopayam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Huuhh.. Bete.. hari minggu bukannya bisa santai-santai di rumah, bisa molor ampe siang, eh yang ada malah disuruh-suruh melulu. Begini nih kalo nggak ada pembantu di rumah, jadinya pas hari minggu aku nggak bisa santai-santai, yang ada malah disuruh bantuin mama bersih-bersih seluruh rumah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Daripada pusing mendengarkan suara berisik mama yang tak henti-hentinya menyuruhku membantunya, aku pun akhirnya dengan setengah hati membereskan rumah. Aku pasang muka cemberut saat menyapu, mengepel, ataupun saat menyiram bunga-bunga mama di halaman. Pokoknya aku berusaha menunjukkan kekurangsukaanku karena hari mingguku yang santai ini diusik oleh tugas-tugas rumah tangga yang menurutku sangat nggak penting seperti ini. Semua ini ‘kan tugas mama pikirku.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Eh… Eh… <span> </span>berpikir apa aku barusan??</span><span id="more-25"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tugas mama saja??</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Memangnya mamaku pembantu di rumah ini??</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Aku tiba-tiba tersadar, sejak kapan tugas rumah tangga seperti menyapu, mengepel, menyiram bunga itu adalah kewajiban seorang mama semata?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Padahal ’kan mama sudah punya seabrek tugas rumah tangga lainnya seperti menyiapkan masakan untuk kami sekeluarga dari sarapan hingga makan malam, mengantar jemput sekolah adik-adikku yang masih kecil-kecil, <span> </span>belum lagi bekerja paruh waktu di butik milik Bu Haji yang lumayan sibuknya, bahkan tidak jarang mama membawa pulang jahitan untuk dikerjakan di rumah sampai larut malam apabila di butik sedang kebanjiran order.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Astaghfirullah, anak macam apa aku ini&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Aku yang tugasnya hanya sekolah setiap hari, masih malas-malasan saat disuruh membantu mama membersihkan rumah di hari libur seperti ini. Padahal mama sudah baik dan pengertian sekali terhadapku selama ini. Beliau tidak pernah mewajibkanku untuk membatunya melakukan tugas-tugas rumah di hari-hari sekolah, karena khawatir akan mengganggu prestasi sekolahku. Padahal kalau aku pikir-pikir kembali, pekerjaan menyapu atau mengepel lantai rasanya tidak akan memakan waktu sampai satu jam, atau dengan kata lain tidak akan mengganggu jam belajarku di rumah yang nantinya akan berpengaruh pada prestasiku di sekolah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Masya Allah&#8230;<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Ternyata aku salah selama ini apabila hanya bersunggguh-sungguh pada saat belajar saja, tapi tidak pernah bersungguh-sungguh dengan ikhlas untuk membantu tugas-tugas mama di rumah. Padahal yang benar &#8216;kan tugas rumah ya tugas seisi rumah, bukan tugas seorang mama saja. Maafkan aku ma&#8230; yang telah egois selama ini, yang tidak pernah ikhlas membantumu mengerjakan tugas-tugas rumah, di hari libur seperti inii sekalipun. Uuhh.. jadi ingin segera menyelesaikan tugas-tugas rumah ini. Pasti tidak akan terasa berat, bila dikerjakan dengan penuh senyum pastinya. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /><br />
</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/spesialsopayam.wordpress.com/25/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/spesialsopayam.wordpress.com/25/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/spesialsopayam.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/spesialsopayam.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/spesialsopayam.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/spesialsopayam.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/spesialsopayam.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/spesialsopayam.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/spesialsopayam.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/spesialsopayam.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/spesialsopayam.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/spesialsopayam.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/spesialsopayam.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/spesialsopayam.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/spesialsopayam.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/spesialsopayam.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=spesialsopayam.wordpress.com&amp;blog=3992859&amp;post=25&amp;subd=spesialsopayam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spesialsopayam.wordpress.com/2008/06/23/tugas-rumah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9757f810923305dcd07ac58c6b3b945b?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">spesialsopayam</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
